Mengubah Sampah Menjadi Bernilai Komunitas Sampahkoe

Mengubah Sampah Menjadi Bernilai Komunitas Sampahkoe

Dikarenakan ilmu pengolahan sampah dan ilmu yang didapat di bangku kuliah belum memadai, akhirnya Khilda belajar ke sana kemari tentang pengolahan sampah. Akhirnya ia bisa menguasai ilmu pembuatan handycraft dari bahan sampah, bioetanol dan biogas sampah, yaitu energi alternatif dari sampah, seperti tas dari kemasan pasta gigi, dan handycraft lainnya. “Alhamdulillah, ternyata apa yang saya kerjakan membuahkan hasil. Kehidupan si kakek bisa terangkat dan anak-anaknya bisa sekolah.

Walaupun saat itu belum maksimal, tapi harus tetap berjuang karena masa depan masih ada dan terlihat baik dari hasil pengolahan sampah ini.” Nah, dari apa yang dilakukannya itu, akhirnya Khilda menularkan ilmu dan pengalamannya kepada pihak lain, supaya orang lain bisa merasakan banyak manfaat dari benda yang dibuang dan dianggap barang kotor, tak berguna, bau, dan tak menghasilkan itu. “Alhamdulillah, sekarang sudah berdiri komunitas ‘Sampahkoe’ yang bergerak di bidang sampah untuk diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.”

Kini, dari Sampahkoe lahirlah jejaring pengolahan sampah, mulai Cimahi, Bandung, Sukabumi, Tangerang, Cikarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, bahkan hingga ke Padang dan Jambi. Bukan cuma itu, sekarang Khilda mempunyai kesibukan plus, yaitu menjadi guru dan pembicara mengenai pengolahan sampah. Ia sering diminta menjadi pembicara oleh pejabat-pejabat hingga keluar daerah.

Suami sangat mendukung

Khilda merasakan, banyak sekali manfaat yang ia dapatkan dari pengolahan sampah ini. Manfaat ini juga dirasakan oleh keluarga dan orang lain. “Paling tidak, lingkungan menjadi lebih baik dan banyak orang terbantu ekonominya karena sampah.” Oleh karena itu, Khilda mengaku akan terus menekuni sampah sampai ada umur dan selama sampah masih ada. “Saya akan terus semangat menggeluti ini, karena selain banyak orang yang terbantu, lingkungan menjadi asri.”

Apalagi, keluarga, terutama sang suami, Genta Yudaswara, ST (27), juga memberikan dukungan penuh. “Kalau tidak ada dukungan dia, mungkin saya belum memiliki apa-apa, juga website komunitas.” Sementara bagi Khayla Almeera Maritza (1), buah hati tercintanya, Khilda berharap apa yang dilakukannya selama ini bisa menjadi contoh nyata, konkret, juga dirasakan oleh anaknya. Sehingga, di masa mendatang ada generasi penerus Khilda yang peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat terbaik kursus persiapan IELTS Jakarta.