Tips Sukses Dalam Budidaya Ikan

Tips Sukses Dalam Budidaya Ikan

Tips Sukses Dalam Budidaya Ikan

Menjadikan usaha budidaya sebagai sumber mata pencaharian, itulah yang dilakukan Edi Iskandar. Pembudidaya ikan air tawar berusia 32 tahun ini menjadikan komoditas patin sebagai jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan. Sebagai pembudidaya yang menjalankan usahanya di daerah Riding Panjang, Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung, pria yang akrab disapa Edi ini menjalankan usahanya sejak 2012. Pria yang menetap sekaligus menjalankan usaha di Riding Panjang ini mengaku betah menjadi pembudidaya karena banyak tantangannya. Apalagi ketika berhubungan dengan alam yang sudah menjadi makanan akrabnya semenjak menempuh pendidikan.

Dalam perjalanannya menimba ilmu, pria asal Cianjur, Jawa Barat (Jabar) ini tidak saja menjalin kontak dengan para ahli, diapun menyerap segala pengetahuan dari perkenalannya itu.Selepas menimba ilmu dan mencari pengalaman kerja selama beberapa tahun, ia akhirnya tertarik untuk mengelola kolam di kawasan Riding Panjang ini. Saya sempat bekerja di beberapa tempat, dan sekitar 2010 saat saya masih di Cipanas, Jabar berpikir tentang usaha budidaya di sini, ucapnya seraya menyambut saya ke pondokan yang terletak di tengah-tengah kawasan budidayanya.

Tidak mengherankan sebetulnya bila Edi betah dan memutuskan berusaha di Bangka Belitung. Saat saya berkunjung ke kolam budidayanya, tempatnya yang asri sempat memanjakan mata. Walau tersembunyi di balik rerumahan penduduk dan jauh dari jalan raya, pepohonan di sekitar lahan budidaya memberikan kesan teduh dan membetahkan mata. Kolam-kolam yang Edi kelola hingga kini, merupakan kolam yang dikelola secara turun temurun oleh keluarga besarnya. Yang dimulai dari kakeknya. Namun, selama itu pulalah kegiatan budidaya ikan jarang menghasilkan keuntungan besar karena faktor kematian yang tinggi. Hingga akhirnya pada 2012 Edi pun nekad mencemplungkan diri dalam usaha budidaya ikan patin.

Membuahkan Hasil
Edi mengelola manajemen budidayanya, mulai dari kebutuhan pakan ikan, hingga penanganan sebelum panen. Berkat tangan dingin dan keberaniannya, usaha Edi pun menuai hasil gemilang. Tak tanggung-tanggung, Edi setidaknya tebar benih 5 ribu ekor ikan patin, sekali panen dalam 4 – 5 bulan bisa mencapai 2,5 ton. Omzetnya mampu menjangkau Rp 50 juta yang diminati pasar lokal. Baik rumah makan hingga konsumen di pasar tradisional. Saat ini, total dia bisa menebar benih ikan hingga 32 ribu ekor di total 40 kolamnya. Selebihnya, ia juga membudidayakan komoditas gurami, tembikang, safil, hingga nila di lahan seluas 2,4 ha dari total luasan lahan 6 ha yang terbagi menjadi 40 kolam.

Para pembeli yang terdiri dari pengepul pada umumnya akan langsung datang ke kolamnya untuk membeli patin yang sudah layak masuk pasar mereka. Contoh saja, pengepul dari pasar higienis Selindung, Pangkalpinang yang paling banyak mencari ukuran 8 ons atau maksimal 1 kg isi dua ekor yang dibeli seharga sekitar Rp 20 ribu per kg. Nanti di pasar atau konsumen akhir harganya bisa mencapai Rp 25 – 28 ribu per kg, ujar Edi.

Tantangan Budidaya
Menjadi pembudidaya selama lima tahun terakhir, Edi pun mengakui banyak pengalaman yang ia dapatkan. Baik suka aupun dukanya. Walaupun begitu, Edi tak menampik kedukaan lebih ia gambarkan sebagai tantangan yang bisa memacunya untuk terus maju mengembangkan usahanya. Tantangan yang ia maksud, salah satunya dari sisi kondisi lingkungan. Yaitu, yang kerap dihadapi para pembudidaya adalah kegiatan tambang inkonvensional yang sebetulnya mengganggu aktivitas budidaya. Keberhasilan yang Edi terima saat ini sebelumnya telah melewati sejumlah kendala.

Kembali mengingat–ngingat kala itu, saat memulai budidaya tidak seperti yang ia harapkan. Faktor kematian yang tinggi lagi-lagi menjadi penyebab. Sebagian besar hanya bisa bertahan hingga seminggu. Bahkan ada yang hanya bisa bertahan sehari, aku Edi. Ia pun mulai mengevaluasi apa penyebab faktor kematian yang tinggi tersebut. Kawasan di sini sulit mencari sumber air mengalir untuk kebutuhan kolam, tambah Edi. Belum lagi faktor keasaman yang tinggi serta terdapatnya kandungan logam seperti timah yang sudah akrab bagi penduduk Bangka Belitung. Edi pun mengajak saya berkeliling sembari memberi gambaran tentang penjelasan yang ia berikan mengenai usaha budidayanya. Berbeda dengan kondisi lingkungan di daerah Pulau Jawa yang menurutnya sangat bersahabat bagi para pembudidaya ikan air tawar. Di Pulau Jawa kan kondisi geografinya berbeda. Kualitas airnya mendukung serta pakan alami tersedia melimpah sehingga budidaya di sana sangat potensial. Makanya banyak orang sini menyebut, kalau sudah biasa budidaya di sini, pindah ke Jawa akan lebih gampang karena sulitnya mengelola kondisi perairan di sini, terangnya seraya menunjuk ke arah kolam yang ukurannya rata-rata tidak sama ini.

Menghadapi tantangan yang ada, Edi pun mengelola kolam agar tepat untuk mengantisipasi kebutuhan air. Salah satunya, dengan cara mengoptimalkan sumber mata air dan respirasi tanah untuk kebutuhan air kolam. Kedalaman rata-rata kolam 3 m, tapi sistem setengah lingkaran. Yakni makin ke tengah kolam makin dalam. Alasannya, kalau ikan itu dari ukuran kecil hingga besar pasti ada tempat tipisnya, yakni dimana ikan kecil akan sulit bernapas di tempat yang lebih dalam. Sehingga kita buat ruang yang lebih dangkal agar ikan kecil lebih gampang mendapat oksigen. Kalau lebih dalam, akan lebih berat dan akan lebih cocok bagi ikan yang berukuran lebih besar. Dan keuntungannya, akan lebih mudah dalam panen ukuran yang lebih besar, jelas Edi.

Pasar pun menjadi salah satu faktor pembatas yang terus Edi kembangkan. Dia pun mengungkap, keengganan masyarakat untuk melakukan usaha budidaya ikan lebih banyak disebabkan pasar patin yang terbatas pasar lokal. Patin tidak bisa keluar, seperti ke Palembang dan sekitarnya karena akan terbanting harga. Di sana harga di pembudidaya per kg hanya Rp 12 – 18 ribu, kalau kita dari sini jual ke sana sama saja bunuh diri, bebernya. Sehingga, untuk lebih memajukan usahanya di bidang perikan an ini, Edi dibantu saudaranya tidak saja menjalankan usaha budidaya.

Ia ingin mengembangkan usaha wisata agro yang menjadi salah satu mimpi besarnya. Rencana kami tiap kolam buat pondok, ada jembatan ke tengah, dengan konsep kembali ke alam. Dan konsepnya lebih ditujukan ke mahasiswa, yang berniat sambil penelitian. Apalagi sebetulnya sudah banyak mahasiswa hingga dosen ke sini untuk berkunjung hingga berdiskusi, imbuhnya.

Kolam Milik Edi Menggunakan Genset Solar

Edi sadar betul bahwa di tempatnya budidaya ikan masih sering kecolongan beberapa ekor ikan patin siap panen akibat kurangnya penerangan. Terlebih lagi diwaktu listrik mati, keadaan sekitar sangat gelap dan rawan pencurian. Hal ini yang mmebuat Edi memberikan satu unit genset solar pada kolamnya sehingga lampu penerangan di sekitar sana terus menyala meskipun sumber listrik utama sedang tidak menyala.

Dirinya merasa sangat beruntung karena disekitar tempat budidaya miliknya terdapat sebuah toko mesin genset yanmar yang mempunyai marketing ahli dan berpengalaman sehingga dirinya membeli mesin diesel tersebut yang benar-benar sesuai untuk kolam ikanya.