Kategori: Berita

Sayur Bening Oyong Kacang Panjang Untuk 7 Porsi

BAHAN: 100 gram wortel, dipotong bulat 1/2 cm 2 buah oyong, dikerat kulitnya, dipotong tebal 1cm 6 lonjor kacang panjang, dipotong 3 cm 4 butir bawang merah, diiris tipis 8 cm temu kunci, dimemarkan 1 sendok makan 5 1/2 sendok teh garam gula pasir 3.000 ml air 1/2 sendok makan bawang goreng untuk taburan

CARA MEMBUAT: 1. Didihkan air. Masukkan bawang merah dan temu kunci. Rebus sampai harum. 2. Masukkan oyong, wortel, dan kacang panjang. Aduk sampai empuk. 3. Tambahkan garam dan gula pasir. Aduk sampai mendidih.

Udang Masak Daun Melinjo Untuk 5 Porsi

BAHAN: 2 lembar daun salam 300 gram udang jerebung, dibelah punggung 3 buah tomat hijau, dipotong-potong 50 gram daun melinjo, dipetiki 1 sendok teh garam 3/4 sendok teh gula pasir 100 ml air 1/2 sendok teh air jeruk nipis 3 sendok makan minyak untuk menumis

BUMBU TUMBUK KASAR: 7 butir bawang merah 2 siung bawang putih 5 buah cabai hijau 3 cm kunyit

CARA MEMBUAT: 1. Panaskan minyak. Tumis daun salam dan bumbu tumbuk kasar hingga harum. Tambahkan tomat hijau. Aduk sampai layu. 2. Masukkan udang. Aduk hingga berubah warna. 3. Tambahkan daun melinjo, garam, gula pasir, dan air jeruk nipis. Aduk rata. 4. Tuang air sedikit sedikit hingga matang.

Mengubah Sampah Menjadi Bernilai Komunitas Sampahkoe

Dikarenakan ilmu pengolahan sampah dan ilmu yang didapat di bangku kuliah belum memadai, akhirnya Khilda belajar ke sana kemari tentang pengolahan sampah. Akhirnya ia bisa menguasai ilmu pembuatan handycraft dari bahan sampah, bioetanol dan biogas sampah, yaitu energi alternatif dari sampah, seperti tas dari kemasan pasta gigi, dan handycraft lainnya. “Alhamdulillah, ternyata apa yang saya kerjakan membuahkan hasil. Kehidupan si kakek bisa terangkat dan anak-anaknya bisa sekolah.

Walaupun saat itu belum maksimal, tapi harus tetap berjuang karena masa depan masih ada dan terlihat baik dari hasil pengolahan sampah ini.” Nah, dari apa yang dilakukannya itu, akhirnya Khilda menularkan ilmu dan pengalamannya kepada pihak lain, supaya orang lain bisa merasakan banyak manfaat dari benda yang dibuang dan dianggap barang kotor, tak berguna, bau, dan tak menghasilkan itu. “Alhamdulillah, sekarang sudah berdiri komunitas ‘Sampahkoe’ yang bergerak di bidang sampah untuk diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.”

Kini, dari Sampahkoe lahirlah jejaring pengolahan sampah, mulai Cimahi, Bandung, Sukabumi, Tangerang, Cikarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, bahkan hingga ke Padang dan Jambi. Bukan cuma itu, sekarang Khilda mempunyai kesibukan plus, yaitu menjadi guru dan pembicara mengenai pengolahan sampah. Ia sering diminta menjadi pembicara oleh pejabat-pejabat hingga keluar daerah.

Suami sangat mendukung

Khilda merasakan, banyak sekali manfaat yang ia dapatkan dari pengolahan sampah ini. Manfaat ini juga dirasakan oleh keluarga dan orang lain. “Paling tidak, lingkungan menjadi lebih baik dan banyak orang terbantu ekonominya karena sampah.” Oleh karena itu, Khilda mengaku akan terus menekuni sampah sampai ada umur dan selama sampah masih ada. “Saya akan terus semangat menggeluti ini, karena selain banyak orang yang terbantu, lingkungan menjadi asri.”

Apalagi, keluarga, terutama sang suami, Genta Yudaswara, ST (27), juga memberikan dukungan penuh. “Kalau tidak ada dukungan dia, mungkin saya belum memiliki apa-apa, juga website komunitas.” Sementara bagi Khayla Almeera Maritza (1), buah hati tercintanya, Khilda berharap apa yang dilakukannya selama ini bisa menjadi contoh nyata, konkret, juga dirasakan oleh anaknya. Sehingga, di masa mendatang ada generasi penerus Khilda yang peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat terbaik kursus persiapan IELTS Jakarta.

Tips Sukses Dalam Budidaya Ikan

Tips Sukses Dalam Budidaya Ikan

Menjadikan usaha budidaya sebagai sumber mata pencaharian, itulah yang dilakukan Edi Iskandar. Pembudidaya ikan air tawar berusia 32 tahun ini menjadikan komoditas patin sebagai jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan. Sebagai pembudidaya yang menjalankan usahanya di daerah Riding Panjang, Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung, pria yang akrab disapa Edi ini menjalankan usahanya sejak 2012. Pria yang menetap sekaligus menjalankan usaha di Riding Panjang ini mengaku betah menjadi pembudidaya karena banyak tantangannya. Apalagi ketika berhubungan dengan alam yang sudah menjadi makanan akrabnya semenjak menempuh pendidikan.

Dalam perjalanannya menimba ilmu, pria asal Cianjur, Jawa Barat (Jabar) ini tidak saja menjalin kontak dengan para ahli, diapun menyerap segala pengetahuan dari perkenalannya itu.Selepas menimba ilmu dan mencari pengalaman kerja selama beberapa tahun, ia akhirnya tertarik untuk mengelola kolam di kawasan Riding Panjang ini. Saya sempat bekerja di beberapa tempat, dan sekitar 2010 saat saya masih di Cipanas, Jabar berpikir tentang usaha budidaya di sini, ucapnya seraya menyambut saya ke pondokan yang terletak di tengah-tengah kawasan budidayanya.

Tidak mengherankan sebetulnya bila Edi betah dan memutuskan berusaha di Bangka Belitung. Saat saya berkunjung ke kolam budidayanya, tempatnya yang asri sempat memanjakan mata. Walau tersembunyi di balik rerumahan penduduk dan jauh dari jalan raya, pepohonan di sekitar lahan budidaya memberikan kesan teduh dan membetahkan mata. Kolam-kolam yang Edi kelola hingga kini, merupakan kolam yang dikelola secara turun temurun oleh keluarga besarnya. Yang dimulai dari kakeknya. Namun, selama itu pulalah kegiatan budidaya ikan jarang menghasilkan keuntungan besar karena faktor kematian yang tinggi. Hingga akhirnya pada 2012 Edi pun nekad mencemplungkan diri dalam usaha budidaya ikan patin.

Membuahkan Hasil
Edi mengelola manajemen budidayanya, mulai dari kebutuhan pakan ikan, hingga penanganan sebelum panen. Berkat tangan dingin dan keberaniannya, usaha Edi pun menuai hasil gemilang. Tak tanggung-tanggung, Edi setidaknya tebar benih 5 ribu ekor ikan patin, sekali panen dalam 4 – 5 bulan bisa mencapai 2,5 ton. Omzetnya mampu menjangkau Rp 50 juta yang diminati pasar lokal. Baik rumah makan hingga konsumen di pasar tradisional. Saat ini, total dia bisa menebar benih ikan hingga 32 ribu ekor di total 40 kolamnya. Selebihnya, ia juga membudidayakan komoditas gurami, tembikang, safil, hingga nila di lahan seluas 2,4 ha dari total luasan lahan 6 ha yang terbagi menjadi 40 kolam.

Para pembeli yang terdiri dari pengepul pada umumnya akan langsung datang ke kolamnya untuk membeli patin yang sudah layak masuk pasar mereka. Contoh saja, pengepul dari pasar higienis Selindung, Pangkalpinang yang paling banyak mencari ukuran 8 ons atau maksimal 1 kg isi dua ekor yang dibeli seharga sekitar Rp 20 ribu per kg. Nanti di pasar atau konsumen akhir harganya bisa mencapai Rp 25 – 28 ribu per kg, ujar Edi.

Tantangan Budidaya
Menjadi pembudidaya selama lima tahun terakhir, Edi pun mengakui banyak pengalaman yang ia dapatkan. Baik suka aupun dukanya. Walaupun begitu, Edi tak menampik kedukaan lebih ia gambarkan sebagai tantangan yang bisa memacunya untuk terus maju mengembangkan usahanya. Tantangan yang ia maksud, salah satunya dari sisi kondisi lingkungan. Yaitu, yang kerap dihadapi para pembudidaya adalah kegiatan tambang inkonvensional yang sebetulnya mengganggu aktivitas budidaya. Keberhasilan yang Edi terima saat ini sebelumnya telah melewati sejumlah kendala.

Kembali mengingat–ngingat kala itu, saat memulai budidaya tidak seperti yang ia harapkan. Faktor kematian yang tinggi lagi-lagi menjadi penyebab. Sebagian besar hanya bisa bertahan hingga seminggu. Bahkan ada yang hanya bisa bertahan sehari, aku Edi. Ia pun mulai mengevaluasi apa penyebab faktor kematian yang tinggi tersebut. Kawasan di sini sulit mencari sumber air mengalir untuk kebutuhan kolam, tambah Edi. Belum lagi faktor keasaman yang tinggi serta terdapatnya kandungan logam seperti timah yang sudah akrab bagi penduduk Bangka Belitung. Edi pun mengajak saya berkeliling sembari memberi gambaran tentang penjelasan yang ia berikan mengenai usaha budidayanya. Berbeda dengan kondisi lingkungan di daerah Pulau Jawa yang menurutnya sangat bersahabat bagi para pembudidaya ikan air tawar. Di Pulau Jawa kan kondisi geografinya berbeda. Kualitas airnya mendukung serta pakan alami tersedia melimpah sehingga budidaya di sana sangat potensial. Makanya banyak orang sini menyebut, kalau sudah biasa budidaya di sini, pindah ke Jawa akan lebih gampang karena sulitnya mengelola kondisi perairan di sini, terangnya seraya menunjuk ke arah kolam yang ukurannya rata-rata tidak sama ini.

Menghadapi tantangan yang ada, Edi pun mengelola kolam agar tepat untuk mengantisipasi kebutuhan air. Salah satunya, dengan cara mengoptimalkan sumber mata air dan respirasi tanah untuk kebutuhan air kolam. Kedalaman rata-rata kolam 3 m, tapi sistem setengah lingkaran. Yakni makin ke tengah kolam makin dalam. Alasannya, kalau ikan itu dari ukuran kecil hingga besar pasti ada tempat tipisnya, yakni dimana ikan kecil akan sulit bernapas di tempat yang lebih dalam. Sehingga kita buat ruang yang lebih dangkal agar ikan kecil lebih gampang mendapat oksigen. Kalau lebih dalam, akan lebih berat dan akan lebih cocok bagi ikan yang berukuran lebih besar. Dan keuntungannya, akan lebih mudah dalam panen ukuran yang lebih besar, jelas Edi.

Pasar pun menjadi salah satu faktor pembatas yang terus Edi kembangkan. Dia pun mengungkap, keengganan masyarakat untuk melakukan usaha budidaya ikan lebih banyak disebabkan pasar patin yang terbatas pasar lokal. Patin tidak bisa keluar, seperti ke Palembang dan sekitarnya karena akan terbanting harga. Di sana harga di pembudidaya per kg hanya Rp 12 – 18 ribu, kalau kita dari sini jual ke sana sama saja bunuh diri, bebernya. Sehingga, untuk lebih memajukan usahanya di bidang perikan an ini, Edi dibantu saudaranya tidak saja menjalankan usaha budidaya.

Ia ingin mengembangkan usaha wisata agro yang menjadi salah satu mimpi besarnya. Rencana kami tiap kolam buat pondok, ada jembatan ke tengah, dengan konsep kembali ke alam. Dan konsepnya lebih ditujukan ke mahasiswa, yang berniat sambil penelitian. Apalagi sebetulnya sudah banyak mahasiswa hingga dosen ke sini untuk berkunjung hingga berdiskusi, imbuhnya.

Kolam Milik Edi Menggunakan Genset Solar

Edi sadar betul bahwa di tempatnya budidaya ikan masih sering kecolongan beberapa ekor ikan patin siap panen akibat kurangnya penerangan. Terlebih lagi diwaktu listrik mati, keadaan sekitar sangat gelap dan rawan pencurian. Hal ini yang mmebuat Edi memberikan satu unit genset solar pada kolamnya sehingga lampu penerangan di sekitar sana terus menyala meskipun sumber listrik utama sedang tidak menyala.

Dirinya merasa sangat beruntung karena disekitar tempat budidaya miliknya terdapat sebuah toko mesin genset yanmar yang mempunyai marketing ahli dan berpengalaman sehingga dirinya membeli mesin diesel tersebut yang benar-benar sesuai untuk kolam ikanya.

Dampak EL Nino Terhadap Produksi Sawit Indonesia Bagian 3



Antisipasi dan Pemulihan

Namun tingkat kerugian akibat ke – ke ringan tergantung juga pada kesiap – an manajemen perkebunan tersebut da lam mengantisipasi dan mayoritas umur tanaman yang ada di kebun. Dwi As mono misalnya, masih optimistis, pro duksi 2016 masih tumbuh. “Per – sentase penurunan produksi di kebunkebun yang sudah tua bisa mencapai 20%. Untungnya sebagian kebun kami muda sehingga secara keseluruhan produksi masih tumbuh lebih dari 5%,” ujar Direktur Riset & Development PT Sampoerna Agro, Tbk. ini. Jauh-jauh hari Dwi sudah mengantisipasi kondisi terburuk akibat El Nino di Sumatera Selatan. “Aplika si – kan Empty Fruit Bunch (EFB) atau janjangan kosong pada coverage yang le – bih luas. Janjangan kosong ini mampu menyimpan air sekaligus memperbaiki struktur tanah. Penempatannya me – lingkar di luar piringan atau di gawangan. Selain itu, dilakukan percepatan pemupukan sebelum musim kering 2015 tiba,” ungkap pemulia benih sa – wit ini. Khusus kebun po – hon induk, selama mu sim kemarau pa – sokan air dibantu de ngan irigasi tetes dan penyiraman se – hingga produksi be – nih tidak berkurang. Ketika musim ke – marau panjang ber – lalu, pekebun perlu segera melakukan upaya pemulihan kon disi tanaman.

Dwi misalnya meng – geber pemupukan mulai November – Desember 2015. Tentunya setelah cu – rah hujan mencukupi untuk melaku – kan pemupukan. Demikian pula saran Nurul. “Pe mu – pukan harap segera dilakukan apabila curah hujan sudah lebih dari 150 mm/ bulan atau 50 mm/10 hari. Pelak sa – naan pemupukan pada semester I 2016 dilaksanakan lebih awal (Februari – Maret) dengan proporsi pupuk 65% semester I dan 35% semester II. Ke – giat an penunasan (pemangkasan) dilakukan hanya pada pelepah kering,” ujarnya. Selain itu jumlah pelepah segar dijaga sesuai standar 48-56 helai untuk tanaman berumur kurang dari 8 tahun dan 40-48 helai untuk tanaman di atas 8 tahun. Ia menambahkan, perlu aplikasi bahan organik seperti janjang kosong, kompos janjang kosong, pupuk kandang, atau limbah cair. Pengendalian gulma diharapkan tidak lagi secara blanket agar keru – sakan tanah akibat erosi ataupun benturan tanah dengan air hujan secara langsung. Selain itu, gulma pakisan dikendalikan secara baik dapat menjaga kelembapan tanah. Mengantisipasi musim kering mendatang, perlu dibangun bangunan konservasi tanah dan air; misalnya pembangunan rorak, guludan, maupun biopori. Pemupukan dipercepat juga dipraktikkan M. Djoni, Manajer Kebun Pendidikan dan Penelitian Sawit IPB di Desa Singasari, Kec. Jonggol, Bo – gor, Jawa Barat. “Kita memupuk November-Desember lalu untuk jatah April 2016 sebenarnya. Dosis pupuk ditambah tetapi berupa pupuk organik bikinan sendiri sebanyak satu karung (25 kg). Sekarang ini dosis pupuk anorganiknya 3-4 kg/tanaman karena umur tanaman rata-rata 4 tahun,” jelas Djoni. Masih terkait pemulihan tanaman pascakemarau panjang, Hendrik Su – kamto, Business Manager PT Panca Agro Niaga Lestari, menyarankan pengaktifan dulu mikroba tanah di sekitar perakaran. Alasannya, “Tanaman da – lam kondisi stres berat sehingga se – baiknya dipulihkan dulu dengan apli – kasi pupuk hayati. Kalau akar sudah aktif, barulah pupuk dimasukkan se – hingga pupuk dapat terserap dengan baik,” papar Hendrik



Dampak EL Nino Terhadap Produksi Sawit Indonesia Bagian 2



Stres hingga Buah Tak Sempurna

Hasil pengamatan Nurul di Sumatera menunjukkan tanaman semua kelompok umur mengindikasikan stres. “Tan danya, banyak muncul bunga jantan, cadangan bunga dan buah sedikit, bahkan kosong. Muncul daun tombak (pelepah tidak membuka) lebih dari ti – ga dan terbentuk tandan buah yang ti – dak sempurna (malformasi),” ujar lu – lusan S1 Faperta IPB 1998 ini. Terkait munculnya tandan buah ti – dak sempurna, timpal Agus Susanto, “Itu karena aktivitas serangga penyerbuk (Elaeidobius kamerunicus) terganggu asap.” Ia dan koleganya sesa – ma dari PPKS, Agus Eko Prasetyo, me – neliti dampak asap kebakaran terha – dap perilaku serangga penyerbuk di In dragiri Hulu, Riau, mulai Juni – Oktober 2015. Selama bulan-bulan penuh asap, po – pu lasi serangga itu relatif tidak terpe – ngaruh, hanya saja mereka cenderung kongkow di bunga jantan karena tersedia makanannya. Kunjungan ke bunga betina berkurang sehingga transfer polen ke bunga betina menurun pula. Walhasil, penyerbukan bunga tidak ber jalan optimal dan pembentukan bu – nga serta buah tidak maksimal, bah – kan bisa aborsi.

Berdasarkan data 1997 dan 2015, Tim Agroklimatologi menyimpulkan, dalam jangka pendek (sewaktu keke – ring an), El Nino mengakibatkan penurun an rata-rata bobot tandan buah se – gar (TBS) 10%-30%. Sementara rendemen minyak turun sebanyak 0,6%-2%. Pada jangka panjang, perubahan fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) ke Tanaman Menghasilkan (TM) bisa tertunda 6-12 bulan. Jumlah tandan dan produktivitas TM pun turun 1% – 45% selama 12 – 24 bulan pascakekeringan

Dampak EL Nino Terhadap Produksi Sawit Indonesia

Sejak 1980 – 2015 sudah 11 kali fenomena El Nino terjadi. Dan El Nino tahun lalu termasuk yang terkuat setelah kasus 1997. Di Indo ne sia fenomena alam yang menyebabkan kekeringan panjang ini melanda per kebunan sawit terutama di selatan ja uh dari Khatulistiwa. Tak hanya keke ringan tetapi anomali iklim tersebut ju ga memicu kebakaran hutan dan la han sehingga menimbulkan asap yang mempengaruhi performa tanaman sawit. Menurut Tim Agroklimatologi dari Kelompok Peneliti Ilmu Tanah dan Agro nomi, Pusat Penelitian Kelapa Sa – wit (PPKS) Medan, tanaman akan ke na cekaman kekeringan apabila meng – alami salah satu hal berikut: curah hu – jan kurang dari 1.250 mm per tahun, de – fisit air 200 mm atau lebih, terjadi ti ga atau lebih bulan kering yang curah hu – jannya di bawah 60 mm, dan deret an ha – ri tidak hujan (dry spell) 20 hari ke atas.

Menurut Nurul Hijri Darlan, salah sa – tu anggota tim pada seminar Masya ra – kat Perkelapasawitan Indonesia (MAKSI) di kampus IPB, Bogor, 7 De sember silam, “Di antara enam wila yah Suma – tera yang diteliti Oktober 2015, Riau termasuk yang paling parah terdampak.” Kebun sampel di Riau meng alami 7 bulan kering, defisit air hingga 762 mm, dan deret hari tidak hujan 107 hari. Tak cuma terlanda kekeringan, pro – vinsi tersebut juga mengalami gangguan asap cukup parah. Asap ini, lanjut Nurul, menyebabkan berkurangnya penyinaran matahari hingga 60% di Pe – kanbaru, Kampar, dan Indragiri. Pa da – hal tanaman sawit butuh penyinaran minimal 4 jam. Praktis, kondisi ini meng ganggu proses fotosintesis. Lantas apa akibatnya semua itu?

Strategi Pemerintah Mengatasi Kemiskinan Bagian 2

Masyarakat penerima bantuan benar-benar mengambil manfaat sebesar-besarnya dari barang bantuan tersebut. Manfaat yang berkelanjutan tentu saja. Jadi sifat bantuan itu memberikan kail yang bisa digunakan masyarakat kurang beruntung untuk berjuang mendapatkan ikan (nafkah). Bukan menyediakan ikan tanpa perjuangan. Sementara pemerintah juga berhasil mengentaskan masyarakat dari kemiskinan seperti tujuan program. Ide memberantas kemiskinan tersebut menarik. Namun kita juga menitipkan pesan agar jangan sampai barang bantuan, terutama alsintan, mangkrak menjadi besi tua. Kendati merupakan bantuan, instansi pemerintah yang bertanggung jawab mengelola masyarakat miskin, seperti Kementerian Desa, hendaknya tetap melaksanakan seleksi calon penerima bantuan agar tepat sasaran. Mereka yang terseleksi benar-benar mendapat pelatihan teknis menangani alsintan dan mengelola bisnis penyedia jasa alsintan supaya usahanya berkelanjutan.

Untuk itu pemerintah bisa menggandeng para produsen alsintan terkait. Para penyuluh pertani – an pun perlu mendapat pelatihan yang sama agar bisa membantu petani di wilayah kerjanya. Selain itu, bantuan benih harus terjaga kualitasnya. Pasalnya, di lapangan acap kali terdengar petani me – ngeluhkan kualitas benih bantuan kurang baik sehingga bukannya ditanam malah dijual kembali. Mereka lalu membeli benih yang sesuai keinginan. Setelah menanam, mereka perlu diajari berjejaring dalam memasarkan produk agar memperoleh harga yang baik. Betapapun ratusan miliar anggaran pemerintah yang dibelanjakan untuk memberikan bantuan tersebut dikumpulkan dari pajak masyarakat yang lain. Jangan sampai anggaran itu sia-sia dan rumah tangga miskin yang dibantu tidak kunjung naik kelas.

Strategi Pemerintah Mengatasi Kemiskinan

Masih besarnya jumlah penduduk miskin menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Bu – kan rahasia lagi, salah satu kantong kemis – kinan adalah pedesaan yang notabene mayoritas penduduknya mencari nafkah di bidang pertanian. Di sisi lain pertanian juga masih diandalkan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Usai rakornas gabungan 3 Desember silam, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkap langkah baru pemerintah untuk mengatasi hal itu. Jumlah penduduk miskin, menurut Mentan, sebanyak 27 juta jiwa di seluruh Indonesia. Jumlah ini dibagi empat sehingga ada 8 juta rumah tangga yang menjadi sasaran program. Caranya, pertama, guna memenuhi gizi keluarga, pemerintah akan membagikan ayam 10 ekor untuk tiap keluarga. Ayam itu diharapkan bertelur setiap hari sehingga masing-masing keluarga terjamin kebutuhan proteinnya.

Kedua, ada program bantuan benih jagung beserta pupuknya gratis untuk lahan seluas 4 juta ha. Ini ditujukan kepada keluarga petani di pedesaan yang punya lahan. Mereka bisa bertanam jagung di lahanlahan tidur di kawasan sekitar. Selain jagung, padi, dan bawang, akan dibagikan pula bibit tanaman perkebunan, termasuk buah, seperti mangga, rambutan, dan alpukat. Dengan harapan, hasilnya bisa menjadi sumber pendapatan dalam jangka panjang. Tiap keluarga akan mendapatkan 5-10 batang. Bakal tersedia 40 juta batang bibit. Sementara keluarga lain yang tidak punya lahan, diminta berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 30 orang. Mereka akan diberi alsintan berupa traktor roda empat, mesin tanam, atau mesin panen padi. Misal, bantuan traktor beserta suku cadangnya senilai Rp500 juta. Kelompok ini diarahkan untuk menggunakan bantuan pemerintah tersebut sebagai modal menjalankan bisnis penyedia jasa alsintan, seperti jasa olah tanah. “Kita latih mereka. Kita beri pendampingan dari kalangan kampus. Ini pendapatannya bisa Rp2 juta per hari. Nah, ketiga puluh orang miskin ini, pendapatannya masing-masing langsung Rp2 TAJUK Peni Sari Palupi juta/bulan, di luar dari telur. Berarti sudah lepas dia dari kemiskinan,” ucap Mentan penuh semangat. Untuk melaksanakan program “membunuh” kemiskinan tersebut selama tiga tahun, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran senilai Rp800 miliar. Kita tentu berharap yang terbaik dari program tersebut.

lanjut ke bagian 2 : https://tele95.com/berita/strategi-pemerintah-mengatasi-kemiskinan-bagian-2/

BASF Resmikan Pusat Pengetahuan Padi

BASF Resmikan Pusat Pengetahuan Padi

Fasilitas yang baru diresmikan BASF ini memusatkan keahlian global dalam budidaya padi dan mendukung pencapaian agronomi serta teknis yang disempurnakan. Gustavo Palerosi Carneiro, Senior Vice President Crop Protection BASF Asia Pasifik berujar, pusat penelitian ini bisa berbagi teknologi maupun praktik terbaik dengan petani. “Kita bisa mendorong inovasi lebih lanjut dalam memproduksi padi,” tambahnya saat peresmian Pusat Pengetahuan Padi (Rice Knowledge Center) di Bay, Laguna, Filipina, Selasa (5/12). Ahli perlindungan tanaman global dan tenaga teknis dari BASF bisa memanfaatkan Pusat Pengetahuan Padi dalam memberikan pelatihan, saran dan du – kung an kepada para petani. Untuk membantu mempercepat adopsi teknologiteknologi, BASF telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan the International Rice Research Institute (IRRI) untuk memperkenalkan teknologi tabur benih langsung (Tabela) kepada petanipetani di Asia. Try Surya Anditya Lokakarya Aplikasi Drone Perusahaan survei udara, PT Aero Geosurvey Indonesia menyelenggarakan Workshop Aplikasi Drone dalam Transformasi Konstruksi Indonesia.

Dewi Damayanti, Marketing & Sales Manager PT Aero Geosurvey Indonesia, menyebut, pemanfaatan drone sudah meluas, bukan hanya untuk sektor konstruksi, tetapi juga sektor perkebunan, minyak dan gas, serta sektor utilitas. Dalam workshop tertutup tersebut, hadir beberapa perusahaan besar di sektor konstruksi. Penekanan materi ber – tumpu pada aplikasi yang dilakukan pada tiap perusahaan, tetapi tetap memperhatikan kebijakan dan regulasi yang di tetapkan Kementerian Perhubungan. Direktur PT Aero Geosurvey Indonesia, Michael Wishnu Wardana mengatakan, workshop ini tidak semata-mata memperkenalkan perusahaan. Namun yang terpenting adalah edukasi yang dilaku – kan. “Banyak penggunaan drone yang keliru dan kami berusaha memperbaiki ini,” ucapnya, Kamis (14/12)

Sawit Tak Berkelanjutan Berisiko Buat Bank

Sawit Tak Berkelanjutan Berisiko Buat Bank Lembaga keuangan akan menghadapi risiko besar bila ikut mendanai produksi dan pengolahan minyak sawit tidak berkelanjutan. Demikian kesimpulan laporan berjudul Mengelola Risiko Kelapa Sawit: Laporan singkat untuk pemodal yang diterbitkan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Landscape Indonesia, Selasa (12/12) di Jakarta. Tiur Rumondang, Country Director RSPO Indonesia menjelaskan, laporan ini dibuat karena belum ada pembahasan tentang risiko berinvestasi di kebun sawit tanpa berkerlanjutan. “Risiko ini yang mau dipaparkan. Bagaimana mengelola risiko kelapa sawit dengan standar keberlanjutan.

Kelapa sawit tidak berkelanjutan bisa memberikan banyak risiko,” terang Tiur. Terlebih, bank salah satu stake holder RSPO yang sangat berperan di sisi paling hulu. Menurut Agus P. Sari, CEO Landscape Indonesia dan sebagai penyusun laporan itu, lembaga keuangan tengah menghadapi berbagai risiko terkait reputasi, benturan dengan peraturan, dan finansial yang semakin meningkat bila memberikan pendanaan kepada produsen kelapa sawit yang tidak berkelanjutan. “Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah mengeluarkan Peraturan No. 51 Tahun 2017 yang melarang institusi pendanaan untuk memberi pendanaan pada perusahan perusak lingkungan, Bank bisa dituntut. Bank bisa kehilangan reputasi dan nasabah jika produsennya tidak sustainable. Semua risiko ini ujung-ujungnya akan jadi risiko finansial. Bank akan mengalami kerugian,” papar Agus. Karena itu perbankan harus memahami standar sertifikasi setiap perusahaan. “Lembaga keuangan melalui keputusan pendanaan yang diambilnya dapat mendorong perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan. Keputusan bisnis yang memperhatikan isu keberlanjutan akan menciptakan stabilitas dan kemakmuran bagi bank de – ngan membatasi eksposur terhadap risiko,” pungkasnya.