Kategori: Bisnis

El Nino Beraksi, Produksi Padi Tetap Terkendali Bagian 2

“Pangan aman, masyarakat tenang. Dampak kekeringan insya Allah nggak ada masalah karena kita persiap kan sejak tiga tahun yang lalu. Kita membangun 30 ribu embung, irigasi 3,4 juta ha, terbesar sepanjang sejarah, dam-dam kecil, juga pompanisasi,” ulasnya mantap. Kementan optimis produksi beras tahun ini akan surplus sekitar 17,92 juta ton.

Perkiraan surplus tersebut dihitung dari target produksi padi 2018 sebesar 83,03 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau 48,29 juta ton setara beras, sedangkan perkiraan total konsumsi beras nasional hanya 30,37 juta ton.

Menurut Amran, rerata panen padi mencapai 1 juta ha/bulan sepanjang 2018. Pada kesempatan berbeda, Sumardjo Gatot Irianto, Dirjen Tanaman Pangan, Kementan, menambahkan, produksi padi Januari–September tahun ini jauh lebih baik daripada tahun lalu. “Produksi dan luas panen padi pada Aram (Angka Ramalan) I 2018 lebih tinggi dibandingkan Atap (angka Tetap) 2017. Produktivitas padi 2018 meningkat dibandingkan 2017,” ujarnya di Jakarta, Senin (1/10). Produksi naik karena tiga faktor utama, yakni perluasan tanam, produktivitas meningkat karena cuaca yang baik, dan menurunnya serangan OPT. Dari luas tanam padi nasional, imbuh Gatot, maksi mal berkurang 5% karena kekeringan, kebanjiran, hingga serangan OPT. “Jadi, panennya itu sekitar 95%,” katanya.

Gatot juga meyakini, fenomena El Nino justru ikut membantu penambahan luas tanam. “El Nino lemah itu bukan tren tapi opportunity (peluang) karena saat itu rawa-rawa yang tergenang air justru berkurang dan bisa kita tanami. Kalsel, Sulsel, dan Lampung luas tanamnya naik tinggi,” papar Dirjen. Biasanya luas tambah tanam (LTT) pada Sep tember hanya 1,1 juta ha tetapi September tahun ini meningkat menjadi 1,5 juta ha.

Kementan pun merevisi aturan uji multilokasi benih unggul lokal untuk mendukung pertanaman padi di lahan rawa. “Unggul lokal itu unggul di wilayah tersebut. Sudah, dianalisis daya tumbuhnya, kadar airnya, kotoran benihnya berapa, langsung bisa dilakukan sertifikasi. Perubahan ini memungkinkan varietas-varietas unggul lokal yang selama ini tidak bisa dikembangkan, dikembangkan di daerah itu,” jelas Gatot.

Di samping itu, Kementan juga memperkuat pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen untuk 2018 dengan memperbanyak pengering sekitar 801 unit dan rice milling unit sebanyak 97. Anggaran pengadaan ini baru diterima Kementan awal September 2018 sehingga masih dalam proses inisiasi dan tahap pembangunan.

El Nino Beraksi, Produksi Padi Tetap Terkendali

Dampak kekeringan insya Allah nggak ada masalah karena kita persiapkan sejak tiga tahun yang lalu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan pada 2018 di Indonesia mulai berlangsung mulai Oktober. Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG menjelaskan sebanyak 78 Zona Musim (ZOM) atau 22,8% di wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian Sulawesi mengawali musim hujan pada Oktober 2018. Wilayah yang memasuki musim hujan pada November 2018 sebanyak 147 ZOM atau 43,0% meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), NTT, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Sisanya, sebanyak 85 ZOM (24,9%) mengalami musim hujan mulai Desember 2018.

Dwikorita menambahkan, fenomena El Nino diprediksi berpeluang aktif pada September 2018 hingga 2019. Kondisi ini secara tidak langsung menyebabkan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia menjadi terlambat dari biasanya. El Nino diprediksi akan kembali netral pada awal 2019. Bagaimana pengaruh perubahan iklim terhadap produksi padi nasional? Perubahan Iklim Menurut Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Kementerian Pertanian (Kementan), El Nino yang diprediksi menguat pada akhir 2018 ini sebagai dampak perubahan iklim. “Iklim jadi nggak menentu.

El Nino atau kekeringan dan La Nina sering terjadi dan volumenya makin meningkat, dari lima tahun sekali menjadi tiga tahun sekali,” urainya. Selain kerap terjadi El Nino dan La Nina, ungkap Dedi, perubahan iklim juga menye babkan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tidak keruan. “Dulu (OPT) nggak muncul, sekarang muncul karena predator hama penyakit mati gara-gara suhu meningkat sehingga berkembang pesat,” ulas Dedi.

Yang tidak kalah penting, es di kutub utara dan selatan mencair lantaran suhu bumi meningkat sehingga muka air laut meningkat. Sekitar 60% sawah di Indonesia ada di kawasan pesisir, seperti Pantai Utara Jawa yang menyebar dari Banten hingga Jawa Timur. Peningkatan muka air laut tersebut akan menggenangi dan mengintrusi sawah. “Air laut itu racun bagi tanaman. Padi toleran terhadap salinitas. Tapi kalau salinitasnya kencang, nggak tahan, mati juga,” lanjutnya. Beras Aman Terkait dampak El Nino 2018 terhadap produksi padi nasional, Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, menegaskan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Waspada Penyakit Udang 2019 Bagian 2

Bahkan kalau dilihat, sangat progresif. Kematiannya cukup banyak,” ulas dia. Penanganannya perlu hati-hati. Segera kubur udang yang mati akibat WSSV. Yang paling utama adalah menjaga biosekuriti, misalnya memperhatikan jangka waktu panen dengan penebaran. Atau, memasang perangkap untuk mencegah masuknya hewan liar, seperti udang kecil, kepiting. cacing, dan burung ke dalam kolam yang bisa menularkan penyakit. Eliminasi hewan carrier (pembawa penyakit) itu dengan saringan dan disinfeksi. “Carrier ada beberapa macam. Jentik nyamuk, telur ikan juga positif. Penting memasang saringan 200 mikron karena telur ikan dan kepiting rata-rata berukuran 50- 500 mikron. Ini yang saya lihat masih banyak diabaikan petambak,” kritik Heny.

Sementara, IMNV memperlihatkan ciri insang menghitam, otot putih, dan ekor kemerahan. “Sekarang ekor kemerahan ini susah dicari, rata-rata putih aja semuanya,” tim palnya. Mula-mula myo ada di Situbondo, Jatim, lalu menulari Lampung, Bali, Lombok, dan lainnya. Yang terbaru, ‘Myo ra sa WS’ banyak terjadi di Lampung, Banyuwangi dan Situbondo (Jatim), Bali, Jawa Barat bagian Selatan, dan Bengkulu.

Penyakit ini akibat tiga infeksi, yaitu bakteri vibrio, EHP, dan IMNV. Ciri serangan berupa insang menghitam, otot putih, dan kematian progresif dari satuan, kiloan hingga ribuan ekor dalam waktu singkat. Kematian terlihat pada umur 50 harian. Sebelumnya diawali dengan drop plankton pada udang umur 30-40 hari. Pen cegahannya dengan menjaga udang agar tidak stres, mempertahankan kestabilan plankton, serta menjaga padat tebar dan kandungan bahan organik. HPM, EMS, SIHV Heny menjabarkan, HPM atau EHP adalah parasit yang ada di India, Indonesia, dan Amerika Latin.

Efek langsungnya berupa pertumbuhan lambat dan efek tidak langsung akan berkombinasi dengan bakteri melalui feses. Pembudidaya sebaiknya melakukan pengapuran saat persiapan kolam atau menggunakan klorin dan etanol untuk membunuh spora EHP. Koordinasi EHP dengan bakteri pun memicu kehadiran WFD. Tanda WFD berupa perut memutih yang kerap dianggap berak putih. Perut memutih sebenarnya bagian dari hepatopankreas. EMS, lanjutnya, memang belum ada di Indonesia tapi pembudidaya harus berhati-hati karena penyebabnya Vibrio.

Terlebih, kini diketahui ada lima strain Vibrio penyebab EMS, yaitu V. parahaemolyticus, V. owensii, V. champbelli, V. harveyii, dan V. punensis. “Dugaannya ada genetik yang transfer antarplasmid ke bakteri lain,” ungkapnya. Pengurus Indonesia Network on Fish Health Management (INFHEM) itu menekankan, pem bu didaya untuk tidak membiarkan plankton drop terlalu lama.

Lalu, rutin membersihkan dasar kolam agar tidak menghitam, serta membuang bekas udang mati jauh dari kolam. “Bekas udang mati yang tidak dibuang adalah makanan utama V. parahaemolyticus,” serunya. Kolam yang diabaikan seperti itu merupakan tanda-tanda EMS. Sementara SIHV yang mematikan udang di China disebabkan Iridovirus.

Ciri penyakit ini seperti EMS dan ditandai dengan lambung serta usus yang kosong, hepatopankreas memucat, dan cangkang udang melunak. Menurut Heny, pembudidaya di China kerap memelihara udang bercampur dengan komoditas lain, seperti katak. Hal ini menjadi salah satu pemicu datangnya SIHV.

Waspada Penyakit Udang 2019 Bagian 1

Hingga 2021 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana menambah devisa US$1 miliar dari ekspor udang. Target itu terancam gagal jika pembudidaya tidak mewaspadai penyakit yang siap menggerogoti si bongkok. Apa saja penyakit udang yang kemungkinan aktif berkeliaran sepanjang tahun ini? Penyakit Terkini Menurut Dr. Heny Budi Utari, M. Kes, Head of Animal Health Service PT Central Proteina Prima, Tbk. penyakit utama yang kerap merugikan pembudidaya udang di Asia dan Indo Pasifik terdiri dari virus, bakteri, parasit, dan penyakit noninfeksi.

Penyakit yang disebabkan virus ialah White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), Taura Syndrome Virus (TSV), dan Shrimp Hemocyte Iridescent Virus (SIHV). “SIHV merupakan penyakit baru, hanya ada di China. Di Indonesia tidak ada,” ujarnya. Bakteri mendatangkan Early Mortality Syndrome (EMS)/Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang sekarang menjadi masalah terbesar di Asia dan penyakit yang disebabkan Vibrio sp. Parasit yang mengganggu udang berupa Microsporidia dan Haplosporodia.

Microsporidia mengakibatkan Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) atau Hepatopancreatic Microsporidiasis (HPM) dan White Feces Disease (WFD). Sedangkan penyakit noninfeksi misalnya insang hitam, toksik plankton, dan kram otot yang masih banyak terlihat di beberapa lokasi budidaya. Penyakit paling penting sekarang yang menyerang si bongkok, kata Heny, adalah IMNV atau yang akrab disebut myo, WSSV, EHP, WFD, dan EMS atau AHPND. “Myo menjadi kendala buat kita. Bahkan, ada supplier Indonesia yang ditolak ekspor di luar ne geri karena myo.

Kebetulan diuji dan myo-nya positif,” ulasnya pada acara Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019. Myo dan WSSV berjalan sesuai pergerakan musim. Musim kemarau didominasi myo, sedangkan musim penghujan gantian WSSV yang mendominasi. EHP dan WFD juga masih muncul. Bahkan setelah 2016, persentasenya mengalami kenaikan seiring penambahan padat tebar dan sulitnya membuang bahan organik. “Seiring ada EHP, WFD pasti naik karena ini hampir ada korelasinya,” ucapnya. Selain pengaruh lingkungan, menurut Prof. Dr. Slamet Budi Prayitno, M.Sc., WSSV, IMNV, EHP merupakan penyakit endemik yang mengancam produksi udang 2019. Tahun ini, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang, itu, menjelaskan, pola penyakit udang belum bergeser dari WSSV, WFD, IMNV, dan HPM/ EHP. “Di tambak, AHPND ancaman serius karena sudah tiga tahun ini kita punya WFD.

Selain itu masih ada WSSV, myo, dan HPM. Pesan saya, harus ada kepedulian bersama,” ia mewanti-wanti mengingat Thailand dan Vietnam terkena AHDNP selepas berturut-turut diserang WFD. Perubahan Penyakit Penyakit WSSV, ungkap Heny, trennya menjadi pembunuh utama udang budidaya. Apalagi, sekarang penyakit ini pintar berkamuflase. “Kalau dulu WSSV kelihatan ada bercak atau spot putih, sekarang tidak dengan spot putih tapi kemerahan. Kematiannya hanya berlangsung 2-3 hari.

baca juga artikel lanjutannya di https://tele95.com/bisnis/waspada-penyakit-udang-2019-bagian-2/