Mengontrol Pertanian dengan Teknologi Bagian 1

Mengontrol Pertanian dengan Teknologi Bagian 1

Teknologi diterapkan kedalam alat dan mesin mempermudah upaya peningkatan produktivitas. Dalam gelaran China International Agricultural Machinery Exhibition (CIAME) 2018, berbagai alat dan mesin pendukung di dunia pertanian disuguhkan. Selain perusahaan-perusahan tuan rumah, nama-nama besar di pasar internasional pun ikut ambil bagian.

Sebut saja John Deere, CLAAS, Agco, Deutz-Fahr, Kubota dan Yanmar. CIAME 2018 sudah menjadi representasi kemajuan mekanisasi di bidang pertanian, termasuk asal China. Menyongsong Industri 4.0 China adalah salah satu destinasi untuk mengadopsi teknologi di bidang pertanian. Menurut Henry Haryanto, Wakil Ketua Umum Bidang Industri Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian Indonesia (Alsintani), dunia tengah mengarah ke precision farming (pertanian presisi).

Precision farmingsendiri merupakan esensi dari istilah industri 4.0 yang saat ini sedang populer. Pemanfaatan internet of things (IoT) serta pemasangan microchips ditujukan untuk memudahkan petani mengontrol kondisi pertanian mereka. “Teknologi ini bukan bermaksud melupakan budaya tradisional kita dalam bertani, tapi sebenarnya membantu petani agar produksinya jauh lebih baik.

Tanpa banyak khawatir akan perubahan iklim dan kurangnya tenaga kerja dalam pengamatan,” ulas Henry. Henry yang hadir mewakili Alsintani sebagai delegasi dari Indonesia pada CIAME 2018, menuturkan, pelaku agribisnis diberikan pelatihan mengenai otomatisasi mesin pertanian. Ada pula presentasi terkait irigasi ramah lingkungan.

Pembuatan selang untuk irigasi mikro (drip irrigation – irigasi tetes), imbuh Direktur Eksekutif PT Agrindo Maju Lestari ini, sangat teliti dengan memperhatikan aspek lingkungan. Irigasi tetes ini pun sangat cocok di terapkan di Indonesia. Biaya pestisida bisa ditekan dan hemat air. Selain itu, Henry berujar, artificial intellegence (AI) sebagai solusi masa depan pertanian turut dibahas.